Di era globalisasi sekarang ini, kemajuan sains maupun teknologi sangat memberi kemudahan bagi kehidupan manusia. Misalnya saja, jika ingin berkomunikasi dengan kerabat atau orang atau keluarga yang jauh disana, kita bisa memakai media telepon, bahkan sekarang sudah ada video chat (Telpon dengan Video) kita bisa menelpon dengan bertatap muka, walaupun kerabat atau keluarga kita jauh disana. Akses Informasi sekarang pun sudah jadi hal yang sangat mudah dan cepat untuk dilakukan. Internet, Koran, TV, Radio dan semacamnya, sungguh memudahkan akses informasi bagi manusia, semuanya jadi mudah untuk dilakukan. Mencari berita, lowongan pekerjaan, artikel tentang kehidupan sehat, dan segala macam berita dari yang terkecil sampai berita besar jadi hal yang bisa dilakukan ibaratnya hanya dengan membalikkan telapak tangan.
Namun, seiring perkembangannya, teknologi informasi juga memiliki sisi negatif selain dari mudahnya akses informasi dan memudahkan pekerjaan manusia. Memang, sebagai umat muslim kita memang dituntut untuk berbuat sesuatu dengan teknologi, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surah Al-Anbiyaa ayat 80, yang artinya : “Telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu guna memelihara diri dalam peperanganmu”. Ayat tersebut menjelaskan tentang bagaimana manusia melakukan sesuatu dengan teknologi, sebagaimana Nabi Daud membuat baju besi yang dapat melindungi dirinya dalam peperangan. Namun dari mudahnya informasi itu untuk diakses, banyak hal yang seharusnya bukan untuk konsumsi publik, hal-hal yang diharamkan oleh Islam, Pencemaran nama baik, hal yang seharusnya bukan konsumsi anak-anak, dan sebagainya yang menjadikan kecanggihan teknologi itu sebagai hal yang negatif.
Di Indonesia, kecanggihan teknologi informasi pada zaman sekarang ini, meninggalkan beberapa jejak negatif. Contohnya, marak penipuan di Internet ataupun lewat telpon seluler. Di internet, utamanya pada situs jual beli online, dengan iming-iming harga murah, beberapa dari mereka yang bisa dikatakan para cyber-criminal menawarkan barang yang sebenarnya tidak ada. Memang, tidak semuanya begitu, Cuma beberapa orang tidak bertanggung jawab yang mengambil keuntungan pada hal seperti ini. Situs belanja online yang memang menjadi salah satu yang paling canggih saat ini, dengan kelebihan, kita cukup memesan barangnya, lalu bayar secara online, melalui kartu kredit atau semacamnya, lalu barangnya diantarkan. Kekurangannya tentu saja, kita tidak tahu apakah barang ini bagus atau tidak, sesuai dengan yang ada di foto yang disediakan atau tidak, atau yang lebih parah barangnya memang ada atau tidak. Jangan sampai kita sudah transfer uangnya, lalu barangnya tidak ada. Padahal dalam kaidah komunikasi islam atau etika komunikasi islam ada yang disebut, Qaulan Sadida yang artinya perkataan yang benar.
Komunikasi islam haruslah menyampaikan sesuatu yang benar, jujur, tidak berbohong, juga tidak memanipulasi fakta. Kan sudah melenceng dari kaidah islam dalam berkomunikasi? Allah berfirman dalam Qur’an surah Al-Hajj ayat 30 yang artinya “Dan Jauhilah Perkataan dusta”. Mengapa demikian? Karena apabila sekali kita berkata dusta, maka selanjutnya kita akan berdusta menutupi dusta kita sebelumnya, begitupun selanjutnya, sehingga kita terbiasa berkata dusta tanpa takut akan dosa. Bayangkan orang yang dibohongi itu, mereka yang benar-benar ingin membeli barang yang disediakan di gambar, dengan uang pas yang mereka miliki, lalu kalian dengan tidak merasa berdosanya mengambil hak mereka? Naudzubillah min dzalik.
Salah satu juga yang melenceng dari Qaulan Sadida adalah Perspektif masyarakat Indonesia maupun dunia yang menganggap bila masyarakat Islam adalah masyarakat yang Keras, Teroris, dan segala macam. Mengapa saya mengategorikan Perspektif Masyarakat tentang Islam adalah teroris dalam Qaulan Sadida? Yang saya maksudkan melenceng dari Qaulan Sadida bukan Perspektif dari masyarakat, tapi media yang membuat masyarakat berperspektif seperti itu tadi. Media yang mengambil domba-domba hitam dari komunitas, dan mereka mengambilnya dan menggambarkan mereka seolah-olah mereka adalah keseluruhan muslim. Sedangkan jelas-jelas dalam Qur’an Surah Al-Maidah ayat 32 yang artinya, bahwa jika seseorang membunuh manusia lain, entah apakah dia muslim atau non-muslim, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka dia seakan-akan telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa memelihara kehidupan manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Jelas, dalam ayat ini dijelaskan bahwa membunuh manusia manapun yang tidak bersalah adalah dosa besar dalam islam.
Islam sedikit-sedikit dikatai teroris, misalnya di Indonesia, pengeboman di hotel JW Marriot Bali, mereka seakan-akan menggambarkan bahwa Bom bunuh diri tersebut adalah keseluruhan muslim, sementara membunuh manusia lain yang tidak berdosa dalam muslim adalah hal yang berdosa. Memang, dalam agama lain pun melarang membunuh manusia lain yang tidak berdosa. Tapi bila ada dari mereka melakukan pembunuhan atau pengeboman, apakah mereka dicap sebagai teroris menurut agamanya? Jawabannya tidak, pernahkah anda mendengar, Teroris Hindu? Teroris Khatolik? Teroris Kristen? Sementara islam walaupun kita misalnya hanya mengucapkan satu kata, itupun hanya diucapkan, yaitu Jihad. Langsung dicap sebagai teroris. Padahal jihad menurut islam bukan seperti yang dilakukan para pengebom bunuh diri itu, bukan yang Membunuh orang tidak berdosa yang bukan muslim. Apakah dari ayat tadi kurang jelas mengatakan Islam melarang pembunuhan orang yang tidak berdosa? Naudzu billah. Semoga para awak media bisa menerapkan kaidah Qaulan Sadida dalam komunikasi, karena sungguh Islam adalah agama yang damai. Bukan agama Radikal seperti yang diketahui masyarakat umumnya pada zaman sekarang ini.
Qaulan Sadida, miris, dalam konsep kekinian kau ditutupi oleh kepentingan duniawi manusia. Demi kepentingan rating, kepentingan menipu, kepentingan mendapat uang banyak. Kaidah terpenting dalam Komunikasi Islam, kaidah paling utama, bukan Cuma bagi umat muslim, tapi seluruh manusia di dunia ini, ditinggalkan. Naudzubillah min dzalik, Berkomunikasilah dengan manusia lainnya, bukan Cuma sesama muslim, tapi sesama umat manusia, dengan menerapkan kaidah atau aturan terpenting dalam berkomunikasi Islam, ataupun aturan terpenting dalam Ilmu Komunikasi, dengan langkah pertama dan utama yaitu dengan Qaulan Sadida, berkata yang benar, atau jujur. Semoga kita termasuk manusia yang tergolong dalam manusia yang Qaulan Sadida. Amin ya Rabbal Alamiin…

teruslah berkarya
BalasHapusBajunya kereen
BalasHapus